Minggu, 29 April 2012
Pandangan Hidup
Manusia dan Keadilan
Selasa, 03 April 2012
Keindahan
Kala fajar terbit di ufuk TimurMenyinari hari membuka cakrawala
Kokok ayam membangunkan semua
Kicauan burung terdengar membahana
Terhampar ladang hijau sejauh mata memandang
Hembusan angin damaikan jiwa yang tenang
Berteduh di bawah pohon nan rindang
Saksikan pemandangan yang elok dipandang
Inilah keindahan yang sebenarnya
Kala damai di hati dirasa
Hiruk pikuk kota tak lagi terasa
Kehidupan alami di tengah desa
Petani akrab dengan kerbau pembajak
Air sungai nan jernih serta beriak
Ikan dan udang dapat beranak pinak
Dalam ekosistem yang belum rusak
Gemuruh teriakan anak kecil berlarian
Tanpa takut akan keramaian jalan
Mereka tersenyum bermain dengan riang
Para orang tua pun merasa tenang
Saat senja tiba menutup hari nan indah
Langit terbias dengan warna merah
Para petani mulai kembali dari sawah
Menuju rumah untuk melepaskan lelah
Malam penuh bintang di angkasa
Sunyi sepi desa mulai terasa
Berbeda dengan kehidupan di kota
Lalu lalang kendaraan yang jadi cerita
Suara jangkrik memecahkan hening
Membuat jiwa tak lagi bergeming
Kini sudah waktunya untuk berbaring
Redakan otak yang berpikir terlalu sering
Di desa yang berada di tengah belantara
Penerangan hanya dengan sebuah lentera
Polusi berbahaya belum mengotori udara
Sungguh keindahan yang tiada tara
Manusia dan Penderitaan
· Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu pristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencpai kenikmatan dan kebahagiaan.
· Pengertian Siksaan
Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk memaksakan pindah agama atau cuci otak politik.
Tiga Siksaan Bersifat Psikis
- Kebimbangan, siksaan ini terjadi ketika manusia sulit untuk menentukan pilihan yang mana akan meraka ambil dan mereka tidak ambil. Situasi ini sangat membuat psikis manusia tidak stabil dan butuh pertimbangan yang amat sangat sulit.
- Kesepian, merupakan perasaan sepi yang amat sangat tidak diinginkan oleh setiap manusia. Pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk yang bersosial ,hidup bersama dan tidak hidup seorang diri.Faktor ini dapat mengakibatkan depresi kejiwaan yang berat dan merupakan siksaan paling mendalam yang menimpa rohani manusia
- Ketakutan, adalah suatu reaksi psikis emosional terhadap sesuatu yang ditakuti oleh manusia. Rasa takut ini dapat menimbulkan traumatik yang amat mendalam. Dampaknya manusia bisa kehilangan akal pikirannya dan membuat manusia berkejatuhan mental.
· Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar.
Gejala seseorang yang mengalami kekalutan mental:
- Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung.
- Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan:
- Gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmana maupun rohani.
- Usaha mempertahankan diri dengan cara negative
- Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalam gangguan.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental:
- Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna.
- Terjadinya konflik sosial budaya.
- Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.
· Proses-Proses Kekalutan Mental
Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negative. Positif: trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajud, ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya. Negatif: trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami fustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk fustasi antara lain:
- Agresi berupa kamarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi Hypertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya.
- Regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitive atau kekanak-kanakan.
- Fiksasi adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu.
- Proyeksi merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negative kepada orang lain.
- Identifikasi adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya.
- Narsisme adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari pada orang lain.
- Autisme ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yagn dapat menjurus ke sifat yang sinting.
· Opini
Kehidupan manusia seperti roda yang berputar. Kadang kita berada diatas namun kadang kita berada dibawah. Ketika kita di bawah mungkin kita akan merasakan penderitaan. Dalam menghadapi penderitaan setiap orang pasti melakukan hal yang berbeda untuk menyikapinya, ada yang menyikapinya dengan tindakan positif, ada pula yang negatif. Misalkan yang positif, ia akan lebih berusaha agar tidak mendapatkan penderitaan yang ia sudah alami bahkan bisa menjadikannya sebagai sebuah peluang dalam melakukan sebuah inovasi baru, sedangkan yang negatif ia akan trauma dan membuat kondisinya menjadi labil karena terlalu berlebihan menyikapi penderitaanya dan bahkan sampai ingin bunuh diri. Untuk itu kesehatan rohani setiap orang harus dijaga agar terhindar dari kekalutan mental yang bisa merusak psikis kita.
· Sumber
http://kamusbahasaindonesia.org
http://elearning.gunadarma.ac.id
http://wasnudin.blogdetik.com/2011/04/18/manusia-dan-penderitaan/
Rabu, 14 Maret 2012
Manusia dan Cinta Kasih
Verse 1 :
Peduli sesama tengok di luar sana
Gali darma dengan derma pada sosok merana
Lemah tak berdaya bertahan hindari binasa
Pasrah berserah seraya berjalan akhiri masa
Mungkin bagimu mudah tersenyum atau tertawa lepas
Namun disana banyak jiwa yang bahkan sulit untuk bernafas
Terkulai lemas menahan sakit yang perih
Terurai lepas jalinan timbulkan jenjang kasih
Sudah selayaknya kita manusia saling membantu
Tunjukkan jalan keluar bagi yang temui jalan buntu
Gotong royong dan coba untuk saling memahami
Makin indah taman kala banyak bunga bersemi
Berbagi itu indah takkan habis kau punah
Pagi yang cerah tuk bangkitkan jiwa yang menyerah
Tak mudah mengalah pasrah dengan keadaan
Mungkin terasa berat karena baru permulaan
Chorus :
Saat dunia damai kebaikan bersemai
Alunan indah bagaikan deru ombak di pantai
Lelah terlepas beban terhempas
Tak ada lagi jiwa yang merasakan cemas
Verse 2 :
Tuhan ciptakan manusia dengan rasa cinta
Saat gelap mencekam jadikanlah pelita
Penerang penghalang pandang hati yang buta
Agar sang penguasa peduli rakyat jelata
Ketika raja telah mampu berlaku adil
Hingga tak ada lagi rakyat yang kedinginan menggigil
Hilang semua jenjang perang tak lagi datang
Terbentang kasih sayang sedih pun berganti senang
Indah dunia saat itu semua jadi realita
Nikmat terasa ucap syukur pada Sang Pencipta
Kala semua emosi dapat teratasi
Amarah kini tak lagi mendominasi
Tergambar garis senyuman di raut muka
Hapus memar luka beserta guratan duka
Hamba sahaya seolah sejajar dengan paduka
Retorika dari slogan Bhineka Tunggal Ika
Verse 3:
Bila kearifan telah terpegang oleh pemimpin
Hilang jenjang antara si kaya dan si miskin
Implementasi Pancasila bukan hanya fiksi
Argumentasi narasi deklarasi jadi dedikasi
Loyalitas tanpa batas tak keras namun tegas
Lekas berantas keangkuhan pun terlepas
Puas kala tak ada lagi yang menderita
Siluet hitam kehidupan hanya jadi cerita
Analogi memudar seiring runtuhnya tipologi
Persepsi manipulasi propaganda tiada lagi
Berakhir disambiguitas jelas tanpa ambigu
Tak ada lagi yang berjalan sembari mengangkat dagu
Setara semua tak perlu perantara
Diantara belantara kini ada lentera
Negeri impian yang dulu hanyalah miniatur
Kan terwujud bila ada pembenahan terstruktur


